Berangkat Menuju Ketakwaan

 

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS Al-Baqarah : 183).

Ramadhan merupakan karunia yang telah disediakan oleh Allah bagi kita hambanya yang ingin kembali ke fitrah dan kesucian diri. Di antara dua belas bulan, Allah memberi satu bulan sebagai bulan penolong. Bulan tempat menginstirahatkan nafsu yang selama satu bulan tidak hentinya dipeturutkan. Bulan untuk mengontrol aktivitas organ pencernaan dalam mengolah makanan. Terkadang selama ini tidak semua makanan yang disantap setiap hari dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan. Bulan Ramadhan juga membentuk jiwa empati bagi orang-orang yang menjalankanya. Dengan berpuasa Allah mengajarkan hambaNya untuk belajar memahami perasaan dan pikiran orang lain sebagai manusia. Ternyata, masih banyak saudara-saudara yang seiman yang hidupnya masih kurang beruntung.

Ramadhan merupakan bulan dimana kemahamurahan Allah SWT berlimpah. Di bulan ini, hambaNya  akan mendapatkan pahala yang tidak terdefinisi (undefined), pintu-pintu surga dibuka, dosa-dosa yang telah lalu diampuni, wajah orang yang berpuasa di bulan Ramadhan akan dijauhkan dari api neraka, dan setiap ibadah yang dilakukan akan dilipatkan gandakan pahalanya oleh Allah SWT. Sebagai mana sabda Rasulullah SAW mengatakan  “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Allah telah wajibkan kepada kalian untuk bepuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka”. (HR Ahmad).

Terkadang bulan Ramadhan yang datang tiap tahun sering membuat kita terperanjat dalam aktivitas kosong. Ruh dan keistimewaan Ramadhan tidak hadir dalam jiwa. Sehingga tidak banyak perubahan kesungguhan dalam diri untuk bisa meraih tingkat ketakwaan yang telah diberitahukan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an dan hadist Rasulullah SAW. Karena tidak ada jaminan Ramadhan yang penuh berkah berbanding lurus dengan keteguhan hati dalam meraihnya. Maka perlu sebuah strategi agar Ramadhan bisa dijalani dengan baik dan keberkahanya bisa didapatkan.

Luruskan Niat

Niat. Dari sanalah semua bermula. Segala aktivitas akan menjadi dosa apabila niatnya tidak benar. Ya, setiap amalam meskipun telah dibenarkan syariatnya tetapi tanpa niat yang benar tidak akan berarti apa-apa. Misalkan Ramadhan. Bulan yang penuh keberkahan, di dalamnya terdapat kemulian dan Allah telah perintahkan hambaNya untuk menunaikan ibadah puasa. Kebanyakan ketika keteguhan hati dalam berniat akan menjadi penyimpangan dalam beribadah. Bahkan ibadah puasa Ramadhan akan menjadi aktivitas yang sia-sia dan hanya terbebani dengan haus dan lapar.

Sebelum berangkat dalam pertarungan di bulan Ramadhan perlu penanaman niat pada diri. Apa tujuan dari ibadah puasa Ramadhan yang dilakukan, untuk siapa ibadah puasa Ramadhan ini dikerjakan dan orientasi ibadah puasa Ramadhan itu sendiri. Sehingga ada kejelasan dan kelapangan jiwa dalam menunaikanya. Dan yang paling penting Allah SWT meridhoi setiap detik yang dilalui di bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW mengatakan “Segala amal itu bergantung pada niatnya. Maka barang siapa hijrah kepada Allah dan dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya. Barang siapa yang hijrahnya itu dikarenakan kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawinkanya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Merancang Agenda

Ramadhan sangatlah singkat, mari manfaatkan setiap detiknya dengan amalan-amalan yang berharga. Berusaha agar setiap waktu berlalu tidak terlepas dari ketaatan, penambahan ilmu, pembersihan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai banyaknya aktvitas kosong selama Ramadhan. Apalagi tidak produktif dalam beramal. Tidak jarang dari sebagian orang menjadikan Ramadhan sebagai bulan bermalas-malasan. Lebih banyak melakukan aktivitas-aktivitas yang menghabiskan waktu untuk kesenangan. Misalkan main game, Facebook-an, menonton televisi, hilir mudik dengan kendaraan bahkan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk tidur. Alangkah baiknya aktivitas-aktivitas tersebut disalurkan dengan aktivitas yang produktif. Ya, tilawah al-quran dengan targetan satu hari minimal satu juz, membaca buku-buku yang memperluas cakrawala agama, berinfak, sedekah, memberi makan anak yatim dan banyak lagi amalan sunnah lainya yang bisa meningkatkan kadar pahala selama bulan Ramadhan.

Mulai dari sekarang mari rancang agenda selama bulan Ramadhan sesuai kekuatan pribadi masing-masing. Tanpa adanya perencanaan yang terstruktur, targetan dan capaian amalan sulit untuk diraih. Aktifitas amalan cenderung spontanitas, bersifat kondisional dan tidak terkondisikan dengan baik. Bahkan pergantian Ramadhan dari tahun ke tahun tidak ada peningkatan kualitas keimanan yang dirasakan. Maka dari itu adanya perencanaan amalan, mempermudah dalam meraih targetan keberkahan selama bulan Ramadhan.

Anggap Ramadhan Sekarang Ramadhan Terakhir

Kematian adalah satu rahasia besar dalam kehidupan. Tidak tahu kapan ruh akan diambil kembali oleh Allah SWT. Tidak tahu kapan Izrail akan mencabut ruh dari jasad. Bagi yang menyadari, sungguh ketidak tahuan ini menjadi sesuatu yang agung. Salah satu dirahasiakanya maut, agar manusia senantiasa berhati-hati dalam menjalankan hidup. Setiap detik umur yang dipakai janga sampai keluar dari batasan zona yang telah Allah beritahu.

Tidak ada seorang yang tau bagaimana epilog dari sebuah kehidupan. Apakah mengalami husnul khatimah atau su’ul khatimah. Tentu menggapai husnul khatimah perlu diupayakan dengan segala bentuk kebaikan yang dilakukan dengan jatah umur yang telah Allah SWT berikan.

Begitu juga dengan Ramadhan. Tidak ada yang tahu apakah ramadhan tahun depan bisa kita lalui. Maka jadikan Ramadhan sekarang seolah-olah menjadi ramadhan terkahir dalam hidup. Mengapa? Agar kita senantiasa berusaha keras dalam meningkatkan kadar ketakawaan. Karena Ramadhan tahun depan kita tidak akan temui. Jika Ramadhan tahun ini terlewat hilanglah Ramadhan terakhir kita. Sebagaimana syair arab mengatakan “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok hari”.

 

Minangkabau dan Kebangkitan Nasional

Minangkabau merupakan daerah yang dikenal kental dengan adat dan agamanya. Sebagaimana pepatah adat mengatakan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Pepatah ini menjadi identitas kultural orang Minangkabau yang lahir dari proses dan pergulatan yang panjang. Landasan yang menjadi sistem nilai bahwa islam adalah segala sumber dalam tatanan masyarakat Minangkabau.

Dahulunya generasi-genarasi muda Minangkabau dituntun untuk belajar ilmu agama dikenal dengan istilah mangaji ke surau. Surau memiliki fungsi sentral dalam pembentukan kharakter pemuda-pumuda Minangkabau. Sesuai dengan pepatah adat mengatakan “Surau tampek baribada, tampek balapa ba ma’ana, tampek baraja Qur’an juz 30, tampek mangaji sah jo bata”. Adapun fungsi surau yang dimaksud tempat mengaji, mendalami ilmu agama, tempat bermusyawarah, khusus bagi anak laki-laki surau sebagai tempat tidur. Begitu hidupnya fungsi surau dan wajar saja banyak tokoh cendikiawan dan cadiak pandai yang berasal dari Minangkabau.

Perpaduan adat dan agama telah membentuk individu-individu Minangkabau yang berkarakter dan memiliki identitas diri. Serta dengan perpaduan adat agama tercipta dan tumbuhnya manusia unggul yang mampu bertarung untuk bangsa ini.

Pada abad ke 20 lahir tokoh-tokoh kebangkitan dari Minangkabau yang bergulat menjadi “suluah bendang dalam nagari” dan “cadiak pandai” pemikir bangsa. Sebut saja Moh. Hatta Bapak proklamator Republik Indonesia, Bung Syahril , M. Natsir, Haji Agus Salim, Buya Hamka dan M. Yamin. Mereka menjadi ujung tombak dalam kebangkitan bangsa. Wajah-wajah mereka mendominasi dalam kancah perjuangan dan kemerdekaan. Pemikiran-pemikiran mereka tajam dan terarah menjadi acuan terpenting dalam kebangkitan. Bahkan sampai saat ini identitas dan juga narasi-narasi perjuangan mereka tetap tumbuh dan hidup di sanubari anak bangsa.

Pada dasarnya mereka bukan hanya sekedar berjuang dan berkeringat. Namun berjuang dan berkeringat dengan menumbuhkan dan menghidupkan nilai-nilai peradaban. Tidak menjadikan tahta tujuan hidup. Apalagi berbasis kepentingin pribadi ataupun kelompok. Perjalanan perjuangan mereka tercermin keikhlasan dan tujuan mulia. Bagaimana bangsa ini bisa bangkit dan bisa mampu berbicara dan berbuat banyak diantara bangsa lainya. Semua ini dapat dilihat dari kepribadian mereka.

Kesederhanaan dan kesahajaan selalu hidup dan tumbuh dari dalam diri mereka. Kehidupan mereka sangat sederhana. Ya,sederhana sekali. Menolak fasilitas mewah yang diberikan dan memilih hidup sederhana menjalankan tanggung jawab dalam membangun negara. Seorang pejabat negara (menteri luar negeri) tidak memiliki rumah pribadi, sering pindah dari satu rumah ke rumah yang lain itulah Haji Agus Salim. Berhenti menjadi ketua MUI karena berbicara prinsip beliau lah Buya Hamka. Menjabat sebagai menteri penerangan kala itu memiliki dua helai baju kemeja yang lusuh dan kemeja bertambal itulah sosok M.Natsir. Walaupun mereka memiliki posisi strategis namun tetap menjadi pribadi rendah hati.

Peradaban Minangkabau telah memberikan dampak lahirnya generasi-genarasi tangguh yang memiliki memiliki ruh dalam membangun sebuah peradaban. Sosok-sosok inspiratif yang menjadi pilar kebangkitan negeri. Sebagaimana pepatah adat mengatakan “ka pai tampek batanyo, pulang tampek babarito”. Maka dari itu sudah sepantasnya nilai nilai peradaban Minangkabau ditumbuhkan dan dibangkitkan dalam sanubari. Sehingga sosok Hatta, Syahri, Buya Hamka dan Agus Salim lainya hadir kembali memberikan kontribusi besar bagi negeri ini.

Dukamu… Duka Bagiku

Lagi lagi dunia menutup mata dan telinga seolah hari ini negerimu baik-baik saja.

Lagi-lagi dunia tak besuara seolah hidupmu masih bahagia.

Namun yang ku tau sungguh berbeda saudaraku.

Negerimu tak baik-baik saja dan hidupmu tak lagi sejahtera

Rezim dzalim menindasmu tanpa ada kecaman dari penguasa dunia .

Yang ada hanya dibiarkan leluasa melakukan apa saja.

Namun yakinlah dirimu tak sendiri saudaraku

Aku dan yang lain akan tetap lantang bersuara

Karena dirimu bagian tanggung jawabku

Dukamu duka bagiku…

 

 

Kerja Densus 88 Terlalu “Lebay”

Saya adalah orang yang sangat muak dengan kinerja dan sikap dari Densus 88 dalam memerangi terorisme. Kenapa tidak, tugas dan tanggung jawab seharusnya bisa dilakukan dengan cara profesional, aktual, manusiawi, beradab disertai bukti-bukti yang jelas. Namun nyatanya tidak seperti itu. Masyarakat yang baru terduga sudah dijadikan target operasi penangkapan, diperlakukan dengan cara-cara yang tidak manusiawi.

Dilihat kembali siapa saja yang telah menjadi target operasi dari Densus 88 hampir semuanya adalah muslim. Terduga teroris ditangkap ketika sedang sholat, ketika sedang berada di masjid lebih terkesan menyudutkan dan mengiring opini negatif kepada salah satu agama sebut saja itu islam. Sangat berbeda pelakuan yang diberikan oleh Densus 88 ketika pelakunya bukan dari agama islam. Ya, saya masih ingat kasus Leo, pelaku BOM alam sutra yang sudah terbukti sebagai pelaku namun Densus 88 bersikap tenang tidak sereaktif pelaku-pelaku sebelumnya. Atau karena Leo bukan berasal dari Islam. Dan cap teroris hanya milik mereka yang islam??

Lagi-lagi kasus serupa kembali terjadi. Tindakan Densus 88 sangat lebay sekali. Seorang warga dari Klaten (Suyono) ditangkap setelah sholat magrib. Ya, seperti biasa tanpa adanya kejelasan yang diberikan Suyono dibawa begitu saja. Pada akhirnya Suyono meninggal dunia. Keterangan yang diberikan, tewasnya Suyono disebabkan kelelahan berkelahi dengan Densus 88. Apakah kita percaya begitu saja?? Tentu tidak. Karena sudah menjadi rahasia umum sangat jarang korban yang masih terduga terorisme mendapatkan perlakuan baik dari Densus 88.

Aksi Densus 88 Hanya Munculkan Ketakutan

Aksi-aksi Densus 88 di lokasi yang masih dianggap sebagai tempat terduga teroris menimbulkan ketakukan pada masyarakat. Memakai alat dan persenjataan lengkap melangkah menuju target operasi mengeluarkan tembakan demi tembakan menghadirkan stigma negatif betapa luar biasanya seorang terduga teroris sehingga perlu dimatikan dengan persenjataan.

Stigma negatif inilah yang nantinya menyebar masuk ke ranah lainya. Akan timbul spekulasi lain yang menyudutkan golongan, ras, daerah dan agama tertentu. Sehingga ketakutan bukan hanya muncul ketika peristiwa saja namun akan tetap tertanam selamanya. Karena opini masyarakat telah diiring dengan sinetron manis Densus 88.

Perlu Perbaikan Di Tubuh Densus 88

Pihak keamanan sangat diperlukan untuk menjaga ketertiban. Terutama Densus 88 yang dibentuk untuk menangani segala bentuk ancaman teror. Densus 88 akan melakukan penindakan setalah pelaku dipastikan terlibat dalam jaringan teroris yang mengancam keamanan masyarakat. Sangat berbeda perlakuan dilapangan jika dibandingkan prosedur yang ada ditubuh Densus 88 sendiri.

Data dari Komnas HAM menyebutkan sebanyak 118 orang terduga teroris ditembak mati tanpa adanya proses hukum yang dilakukan dan itu merupakan tindakan (extra judicial killing) pembunuhan diluar pengadilan sebelum adanya kejelasan status hukum. Selain itu cara dan prosedur yang dilakukan Densus 88 dalam melakukan penangkapan lebih mengedepankan cara-cara keras, tidak manusiawi dan kurang beradab yang hanya mendatangkan ketakutan di kalangan masyarakat.

Adanya keinginan pemerintah menaikan anggran Densus 88 dari 1,7 triliun menjadi 1,9 triliun perlu dipertimbangkan kembali. Jangan sampai anggaran dinaikan hanya untuk modal peningkatan kualitas “sinetron” Densus 88 di tengah-tengah masyarakat.

Perlu memaksimalkan dan menempatkan kembali Densus 88 sesuai tupoksi kerja dan tanggung jawabnya. Jangan jadikan Densus sebagai alat untuk menciderai dan menyudutkan golongan, kelompok tertentu. Maka prosedur dan aturan hukum harus jelas dalam penangan kasus teror ini.

Limau Manis, 13/3/2016

Mahasiswa Itu Harus Tagok

Mahasiswa memiliki kebebasan dalam menentukan arah hidupnya. Apalagi pada hakikatnya mahasiswa “memiliki” kampus seutuhnya. Dibutuhkan kemandirian kita dalam  mendisain  dan mengonsep langkah. Serta dibutuhkan kesungguhan dan kejelian memanfaatkan waktu yang tersedia. Sehingga ada titik temu antara kesiapan diri kita dengan aktivitas yang akan dilakukan.

Kampus menuntut kita untuk selalu bergerak. Karena banyak aktivitas yang sudah menunggu dan sudah menjadi tanggung jawab kita menyelesaikanya. Sebut saja itu kuliah, tugas besar, pratikum, research dan banyak lagi. Belum lagi aktivitas yang telah menjadi tanggung jawa moral kita yang diwariskan dari peradaban sebelumnya. Padatnya aktivitas tidak jarang membuat kita meler, jenuh, stag dalam melangkah bahkan tidak menyelesaikan tanggung jawab yang seharusnya diselesaikan. Fenomena ini membuat goncangan yang menganggu kenyamanan kita dalam melangkah.

Masalah dalam hidup merupakan sesuatu yang wajar. Terlebih jika kita berada di titik terendah. Namun jangan terlalut dan melarutkan diri dalam sebuah permasalahan. Kita harus bangkit dan kita harus mencapai titik tertinggi kembali. Ya, sebagai mahasiswa kita harus tagok mengahadapi yang namanya masalah. Karena masalah ataupun tekanan sudah menjadi sunnatullah yang tidak bisa dilepaskan dari yang namanya hidup. Tinggal bagaimana kita membangkitkan diri, keluar dari tekanan yang menyelimuti kita.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membangkitkan diri ketika mengalami kondisi seperti ini. Diantaranya mencari hal-hal menarik yang membuat jiwa kita terpacu kembali untuk melangkah. Atau dengan meningkatkan hubungan spiritual kita dengan Allah. Ya, semakin dekat hati kita dengan Allah, Allah juga akan semakin dengat dengan kita. Dan kita perlu yakini bahwa Allah sebaik-sebaik tempat berlindung dan tempat memohon pertolongan. Nah, sederhana selain goncangan bisa terselesaikan, InsyaAllah jiwa akan tagok dan diri kita pun akan semakin sholeh.

Limau Manih,13/3/2016

Jangan Pernah Lelah Mencintai Republik Ini !!!

Republik ini dilahirkan atas dasar cinta. Cintalah yang mempersatukanya. Cintalah yang membangkitkan semangat juangnya. Dan karena cintahlah republik ini bebas dari penindasan penjajah. Kecintaan merupakan dasar sebuah perjuangan. Dengan cinta semangat juang akan berkobar dan dengan cinta semangat pengabdian akan terus tumbuh. Begitulah yang dilakukan oleh para pejuang republik ini. Atas dasar cinta mengorbankan harta dan usia. Atas dasar cinta rela berkeringat dan berdarah-darah asalkan republik ini bisa berdiri.

Sejarah telah menggoreskan, atas dasar cinta Bung Hatta tidak akan menikah sebelum republik ini merdeka. Beliau rela mempertaruhkan masa depan jiwa raga dan terus berjuang agar republik ini merdeka terbebas dari kaki tangan penjajah. Ya, sebuah keputusan sulit yang memerlukan kesiapan mental lahir batin. Namun sang proklamator telah menunjukan sebuah ketauladanan yang didasari oleh cinta kepada generasi-generasi penerus bangsa. Begitupun bapak pendiri bangsa, diplomat ulung dan Menteri Luar Negeri republik ini Haji Agus Salim dengan jabatan publik yang melekat didirinya tidak lekas membuatnya menjadi orang yang berada. Namun sebaliknya hidup sederahan tidak memiliki rumah pribadi melaikan rumah kontrakan yang membuatnya selalu pindah-pindah setiap saat. Bahkan ketika anaknya meninggal Haji Agus Salim tidak memiliki uang untuk membeli kain kafan melainkan menggunakan taplak meja dan kelambu. Sosok M. Natsir Perdana Menteri Republik ini yang memakai jas tambal dalam bekerja dan mengayuh sepeda ontel dari tempat kerja menuju rumah kontrakannya. Begitulah mereka mengajarkan sebuah ketauladanan rela berkorban dan mengabdi untuk republik ini tanpa sedikitpun tergiur nikmatnya dunia. Semua itu lagi-lagi dilakukan atas dasar cinta.

Perjuangan mereka belum selesai mengantarkan republik ini berada dalam kasta kesempurnaan. Karena mereka memiliki batasan masa dan periode dalam pengabdian. Bukan mereka yang membatasi pengabdian melainkan sang penciptalah yang mentukan. Mereka dibatasi usia dalam berjuang dan mereka dibatasi tenaga untuk lantang bersuara dan bergerak. Walaupun demikian estafet perjuangan terus berlanjut dan saling sambut menyambut dari generasi ke generasi. Begitulah cinta mengikatnya.

Dibutuhkan orang-orang yang mampu melanjutkan perjuang dan orang-orang yang akan menggantikan posisi mereka. Sehingga perjuangan akan terus berlanjut dan tidak berhenti di satu titik. Jika ditanya siapa yang akan melanjutkan perjuangan itu? Jawabanya adalah generasi hari ini!! Ya, generasi hari ini yang hidup dan bernapas di republik ini. Yang waktu dan hari-harinya selalu dihabiskan di republik ini.

Sejarah peradaan telah menjelaskan bahwa perjuangan dari masa ke masa itu berbeda. Sebelum kemerdekaan perjuangan dilakukan melawan kolonial atau penjajah. Musuh nyata yang jelas-jelas tampak mempunyai misi menguasi republik ini. Mengeruk sumber daya alam dengan menjadikan masyarakat sebagai buruh dengan perlakukan diluar batasan manusiawi. Sangat berat sekali pengorban, generasi-generasi yang hidup di masa itu bertaruh nyawa dan raga demi sebuah kemerdekaan.

Pasca kemerdekaan perjuanganpun terus dilanjutkan. Jika kemaren berjuang melawan penjajah namun saat ini berjuang melawan bangsa sendiri. Ya, berjuang melawan penguasa-penguasa tirani yang mencabik-cabik kehormatan sendiri. Meruntuhkan harkat dan martabat bangsa sendiri.  Soekarno pernah mengatakan “Perjuangan ku tidak terlalu berat karena berjuang melawan penjajah namun perjuanganmu akan berat karena melawan bangsa mu sendiri”.

Generasi Hari Ini Harus Bangkit

Sosial control, again of change dan iron stock merupakan fungsi utama generasi hari ini dalam mengabdikan diri. Sebuah kehormatan menjaga republik ini dengan peran yang mulia. Secara tidak langsung jiwa-jiwa terseret untuk berkontribusi nyata dan berjuang.

Tujuh puluh tahun pasca diproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta republik ini telah banyak melalui perubahan. Perubahan di tatanan sosial masyarakat, sosial budaya dan perubahan politik di tataran pemerintahan. Perjalanan panjang disertai lika liku peradaban telah menumbukan kedewasaan bagi republik ini.

Usia yang tak lagi muda perlu perubahan dan perbaikan di berbagai sisi. Fenomena ini mengharuskan generasi-genarasi yang ada di republik ini untuk berfikir lebih keras lagi. Karena akan sangat merugi jika keadaan republik ini sama dengan keadaan sebelumnya. Sesuai dengan cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam UUD 1945 alinea ke empat “…untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamian abadi dan keadialan sosial”.

Berangkat dari cita-cita dan tujuan mulia ini perlu kesadaran pada diri setiap generasi penerus. Cita-cita sudah ada sejak republik ini lahir. Dan sudah dikokohkan dalam pembukaan UUD 1945. Tinggal bagaimana generasi hari ini mampu dan mau berkeringat melanjutkan cita-cita yang sudah diperjuangkan oleh generasi sebelumnya.

Banyak cara yang bisa dilakukan dalam mengabdikan diri dan berjuang. Luasnya republik ini harus berbanding lurus dengan luasnya ide dan gagasan untuk mengabdi. Ruang gerak tidak sempit dan pengabdian akan berjalan terarah. Selain itu diperlukan kesungguhan jiwa untuk berlelah-lelah dan berkeringat. Karena waktu, pikiran dan tenaga akan terseret ikut serta memikirkan republik ini.

Generasi hari ini  harus bangkit dengan segala kekuatan yang dimiliki oleh republik ini. Jangan surut dan ciut dalam memberikan ide dan gagasan besar. Republik ini butuh pejuang-pejuang tangguh, pejuang-pejuang yang mempunyai naluri untuk berkontribusi. Banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satu dengan berkarya. Ya, dengan berkarya ide dan gagasan akan terhubung dan secara tidak langsung akan bermanfaat untuk diri sendiri dan masyarakat. Berkarya bisa di mana saja dan bisa dikembangkan sesuai dengan passion masing-masing.

Yang terpenting jangan jadikan diri sebagai generasi penonton dan penikmat keringat-keringat yang mengalir. Apalagi hanya mengamini setiap perubahan-perubahan yang terjadi. Sangat disayangkan dan sangat mubazir tenaga yang tersimpan dan pikiran-pikarian yang tak dituangkan.  Semuanya lenyap dan tertelan tanpa kebermanfaatan.

Masa lalu merupakan pembelajaran. Generasi terdahulu telah berbuat dimasanya. Mempersembahkan kemerdekaan dan mejaga kemerdekaan. Maka dari itu tugas generasi hari ini melanjutkan perjuangan, mewarisi peradaban dan menjaga republik ini. Jangan lelah untuk mencintainya.

 Limau Manih, 11/3/2016