Jangan Pernah Lelah Mencintai Republik Ini !!!

Republik ini dilahirkan atas dasar cinta. Cintalah yang mempersatukanya. Cintalah yang membangkitkan semangat juangnya. Dan karena cintahlah republik ini bebas dari penindasan penjajah. Kecintaan merupakan dasar sebuah perjuangan. Dengan cinta semangat juang akan berkobar dan dengan cinta semangat pengabdian akan terus tumbuh. Begitulah yang dilakukan oleh para pejuang republik ini. Atas dasar cinta mengorbankan harta dan usia. Atas dasar cinta rela berkeringat dan berdarah-darah asalkan republik ini bisa berdiri.

Sejarah telah menggoreskan, atas dasar cinta Bung Hatta tidak akan menikah sebelum republik ini merdeka. Beliau rela mempertaruhkan masa depan jiwa raga dan terus berjuang agar republik ini merdeka terbebas dari kaki tangan penjajah. Ya, sebuah keputusan sulit yang memerlukan kesiapan mental lahir batin. Namun sang proklamator telah menunjukan sebuah ketauladanan yang didasari oleh cinta kepada generasi-generasi penerus bangsa. Begitupun bapak pendiri bangsa, diplomat ulung dan Menteri Luar Negeri republik ini Haji Agus Salim dengan jabatan publik yang melekat didirinya tidak lekas membuatnya menjadi orang yang berada. Namun sebaliknya hidup sederahan tidak memiliki rumah pribadi melaikan rumah kontrakan yang membuatnya selalu pindah-pindah setiap saat. Bahkan ketika anaknya meninggal Haji Agus Salim tidak memiliki uang untuk membeli kain kafan melainkan menggunakan taplak meja dan kelambu. Sosok M. Natsir Perdana Menteri Republik ini yang memakai jas tambal dalam bekerja dan mengayuh sepeda ontel dari tempat kerja menuju rumah kontrakannya. Begitulah mereka mengajarkan sebuah ketauladanan rela berkorban dan mengabdi untuk republik ini tanpa sedikitpun tergiur nikmatnya dunia. Semua itu lagi-lagi dilakukan atas dasar cinta.

Perjuangan mereka belum selesai mengantarkan republik ini berada dalam kasta kesempurnaan. Karena mereka memiliki batasan masa dan periode dalam pengabdian. Bukan mereka yang membatasi pengabdian melainkan sang penciptalah yang mentukan. Mereka dibatasi usia dalam berjuang dan mereka dibatasi tenaga untuk lantang bersuara dan bergerak. Walaupun demikian estafet perjuangan terus berlanjut dan saling sambut menyambut dari generasi ke generasi. Begitulah cinta mengikatnya.

Dibutuhkan orang-orang yang mampu melanjutkan perjuang dan orang-orang yang akan menggantikan posisi mereka. Sehingga perjuangan akan terus berlanjut dan tidak berhenti di satu titik. Jika ditanya siapa yang akan melanjutkan perjuangan itu? Jawabanya adalah generasi hari ini!! Ya, generasi hari ini yang hidup dan bernapas di republik ini. Yang waktu dan hari-harinya selalu dihabiskan di republik ini.

Sejarah peradaan telah menjelaskan bahwa perjuangan dari masa ke masa itu berbeda. Sebelum kemerdekaan perjuangan dilakukan melawan kolonial atau penjajah. Musuh nyata yang jelas-jelas tampak mempunyai misi menguasi republik ini. Mengeruk sumber daya alam dengan menjadikan masyarakat sebagai buruh dengan perlakukan diluar batasan manusiawi. Sangat berat sekali pengorban, generasi-generasi yang hidup di masa itu bertaruh nyawa dan raga demi sebuah kemerdekaan.

Pasca kemerdekaan perjuanganpun terus dilanjutkan. Jika kemaren berjuang melawan penjajah namun saat ini berjuang melawan bangsa sendiri. Ya, berjuang melawan penguasa-penguasa tirani yang mencabik-cabik kehormatan sendiri. Meruntuhkan harkat dan martabat bangsa sendiri.  Soekarno pernah mengatakan “Perjuangan ku tidak terlalu berat karena berjuang melawan penjajah namun perjuanganmu akan berat karena melawan bangsa mu sendiri”.

Generasi Hari Ini Harus Bangkit

Sosial control, again of change dan iron stock merupakan fungsi utama generasi hari ini dalam mengabdikan diri. Sebuah kehormatan menjaga republik ini dengan peran yang mulia. Secara tidak langsung jiwa-jiwa terseret untuk berkontribusi nyata dan berjuang.

Tujuh puluh tahun pasca diproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta republik ini telah banyak melalui perubahan. Perubahan di tatanan sosial masyarakat, sosial budaya dan perubahan politik di tataran pemerintahan. Perjalanan panjang disertai lika liku peradaban telah menumbukan kedewasaan bagi republik ini.

Usia yang tak lagi muda perlu perubahan dan perbaikan di berbagai sisi. Fenomena ini mengharuskan generasi-genarasi yang ada di republik ini untuk berfikir lebih keras lagi. Karena akan sangat merugi jika keadaan republik ini sama dengan keadaan sebelumnya. Sesuai dengan cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam UUD 1945 alinea ke empat “…untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamian abadi dan keadialan sosial”.

Berangkat dari cita-cita dan tujuan mulia ini perlu kesadaran pada diri setiap generasi penerus. Cita-cita sudah ada sejak republik ini lahir. Dan sudah dikokohkan dalam pembukaan UUD 1945. Tinggal bagaimana generasi hari ini mampu dan mau berkeringat melanjutkan cita-cita yang sudah diperjuangkan oleh generasi sebelumnya.

Banyak cara yang bisa dilakukan dalam mengabdikan diri dan berjuang. Luasnya republik ini harus berbanding lurus dengan luasnya ide dan gagasan untuk mengabdi. Ruang gerak tidak sempit dan pengabdian akan berjalan terarah. Selain itu diperlukan kesungguhan jiwa untuk berlelah-lelah dan berkeringat. Karena waktu, pikiran dan tenaga akan terseret ikut serta memikirkan republik ini.

Generasi hari ini  harus bangkit dengan segala kekuatan yang dimiliki oleh republik ini. Jangan surut dan ciut dalam memberikan ide dan gagasan besar. Republik ini butuh pejuang-pejuang tangguh, pejuang-pejuang yang mempunyai naluri untuk berkontribusi. Banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satu dengan berkarya. Ya, dengan berkarya ide dan gagasan akan terhubung dan secara tidak langsung akan bermanfaat untuk diri sendiri dan masyarakat. Berkarya bisa di mana saja dan bisa dikembangkan sesuai dengan passion masing-masing.

Yang terpenting jangan jadikan diri sebagai generasi penonton dan penikmat keringat-keringat yang mengalir. Apalagi hanya mengamini setiap perubahan-perubahan yang terjadi. Sangat disayangkan dan sangat mubazir tenaga yang tersimpan dan pikiran-pikarian yang tak dituangkan.  Semuanya lenyap dan tertelan tanpa kebermanfaatan.

Masa lalu merupakan pembelajaran. Generasi terdahulu telah berbuat dimasanya. Mempersembahkan kemerdekaan dan mejaga kemerdekaan. Maka dari itu tugas generasi hari ini melanjutkan perjuangan, mewarisi peradaban dan menjaga republik ini. Jangan lelah untuk mencintainya.

 Limau Manih, 11/3/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s