Kerja Densus 88 Terlalu “Lebay”

Saya adalah orang yang sangat muak dengan kinerja dan sikap dari Densus 88 dalam memerangi terorisme. Kenapa tidak, tugas dan tanggung jawab seharusnya bisa dilakukan dengan cara profesional, aktual, manusiawi, beradab disertai bukti-bukti yang jelas. Namun nyatanya tidak seperti itu. Masyarakat yang baru terduga sudah dijadikan target operasi penangkapan, diperlakukan dengan cara-cara yang tidak manusiawi.

Dilihat kembali siapa saja yang telah menjadi target operasi dari Densus 88 hampir semuanya adalah muslim. Terduga teroris ditangkap ketika sedang sholat, ketika sedang berada di masjid lebih terkesan menyudutkan dan mengiring opini negatif kepada salah satu agama sebut saja itu islam. Sangat berbeda pelakuan yang diberikan oleh Densus 88 ketika pelakunya bukan dari agama islam. Ya, saya masih ingat kasus Leo, pelaku BOM alam sutra yang sudah terbukti sebagai pelaku namun Densus 88 bersikap tenang tidak sereaktif pelaku-pelaku sebelumnya. Atau karena Leo bukan berasal dari Islam. Dan cap teroris hanya milik mereka yang islam??

Lagi-lagi kasus serupa kembali terjadi. Tindakan Densus 88 sangat lebay sekali. Seorang warga dari Klaten (Suyono) ditangkap setelah sholat magrib. Ya, seperti biasa tanpa adanya kejelasan yang diberikan Suyono dibawa begitu saja. Pada akhirnya Suyono meninggal dunia. Keterangan yang diberikan, tewasnya Suyono disebabkan kelelahan berkelahi dengan Densus 88. Apakah kita percaya begitu saja?? Tentu tidak. Karena sudah menjadi rahasia umum sangat jarang korban yang masih terduga terorisme mendapatkan perlakuan baik dari Densus 88.

Aksi Densus 88 Hanya Munculkan Ketakutan

Aksi-aksi Densus 88 di lokasi yang masih dianggap sebagai tempat terduga teroris menimbulkan ketakukan pada masyarakat. Memakai alat dan persenjataan lengkap melangkah menuju target operasi mengeluarkan tembakan demi tembakan menghadirkan stigma negatif betapa luar biasanya seorang terduga teroris sehingga perlu dimatikan dengan persenjataan.

Stigma negatif inilah yang nantinya menyebar masuk ke ranah lainya. Akan timbul spekulasi lain yang menyudutkan golongan, ras, daerah dan agama tertentu. Sehingga ketakutan bukan hanya muncul ketika peristiwa saja namun akan tetap tertanam selamanya. Karena opini masyarakat telah diiring dengan sinetron manis Densus 88.

Perlu Perbaikan Di Tubuh Densus 88

Pihak keamanan sangat diperlukan untuk menjaga ketertiban. Terutama Densus 88 yang dibentuk untuk menangani segala bentuk ancaman teror. Densus 88 akan melakukan penindakan setalah pelaku dipastikan terlibat dalam jaringan teroris yang mengancam keamanan masyarakat. Sangat berbeda perlakuan dilapangan jika dibandingkan prosedur yang ada ditubuh Densus 88 sendiri.

Data dari Komnas HAM menyebutkan sebanyak 118 orang terduga teroris ditembak mati tanpa adanya proses hukum yang dilakukan dan itu merupakan tindakan (extra judicial killing) pembunuhan diluar pengadilan sebelum adanya kejelasan status hukum. Selain itu cara dan prosedur yang dilakukan Densus 88 dalam melakukan penangkapan lebih mengedepankan cara-cara keras, tidak manusiawi dan kurang beradab yang hanya mendatangkan ketakutan di kalangan masyarakat.

Adanya keinginan pemerintah menaikan anggran Densus 88 dari 1,7 triliun menjadi 1,9 triliun perlu dipertimbangkan kembali. Jangan sampai anggaran dinaikan hanya untuk modal peningkatan kualitas “sinetron” Densus 88 di tengah-tengah masyarakat.

Perlu memaksimalkan dan menempatkan kembali Densus 88 sesuai tupoksi kerja dan tanggung jawabnya. Jangan jadikan Densus sebagai alat untuk menciderai dan menyudutkan golongan, kelompok tertentu. Maka prosedur dan aturan hukum harus jelas dalam penangan kasus teror ini.

Limau Manis, 13/3/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s