Minangkabau dan Kebangkitan Nasional

Minangkabau merupakan daerah yang dikenal kental dengan adat dan agamanya. Sebagaimana pepatah adat mengatakan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Pepatah ini menjadi identitas kultural orang Minangkabau yang lahir dari proses dan pergulatan yang panjang. Landasan yang menjadi sistem nilai bahwa islam adalah segala sumber dalam tatanan masyarakat Minangkabau.

Dahulunya generasi-genarasi muda Minangkabau dituntun untuk belajar ilmu agama dikenal dengan istilah mangaji ke surau. Surau memiliki fungsi sentral dalam pembentukan kharakter pemuda-pumuda Minangkabau. Sesuai dengan pepatah adat mengatakan “Surau tampek baribada, tampek balapa ba ma’ana, tampek baraja Qur’an juz 30, tampek mangaji sah jo bata”. Adapun fungsi surau yang dimaksud tempat mengaji, mendalami ilmu agama, tempat bermusyawarah, khusus bagi anak laki-laki surau sebagai tempat tidur. Begitu hidupnya fungsi surau dan wajar saja banyak tokoh cendikiawan dan cadiak pandai yang berasal dari Minangkabau.

Perpaduan adat dan agama telah membentuk individu-individu Minangkabau yang berkarakter dan memiliki identitas diri. Serta dengan perpaduan adat agama tercipta dan tumbuhnya manusia unggul yang mampu bertarung untuk bangsa ini.

Pada abad ke 20 lahir tokoh-tokoh kebangkitan dari Minangkabau yang bergulat menjadi “suluah bendang dalam nagari” dan “cadiak pandai” pemikir bangsa. Sebut saja Moh. Hatta Bapak proklamator Republik Indonesia, Bung Syahril , M. Natsir, Haji Agus Salim, Buya Hamka dan M. Yamin. Mereka menjadi ujung tombak dalam kebangkitan bangsa. Wajah-wajah mereka mendominasi dalam kancah perjuangan dan kemerdekaan. Pemikiran-pemikiran mereka tajam dan terarah menjadi acuan terpenting dalam kebangkitan. Bahkan sampai saat ini identitas dan juga narasi-narasi perjuangan mereka tetap tumbuh dan hidup di sanubari anak bangsa.

Pada dasarnya mereka bukan hanya sekedar berjuang dan berkeringat. Namun berjuang dan berkeringat dengan menumbuhkan dan menghidupkan nilai-nilai peradaban. Tidak menjadikan tahta tujuan hidup. Apalagi berbasis kepentingin pribadi ataupun kelompok. Perjalanan perjuangan mereka tercermin keikhlasan dan tujuan mulia. Bagaimana bangsa ini bisa bangkit dan bisa mampu berbicara dan berbuat banyak diantara bangsa lainya. Semua ini dapat dilihat dari kepribadian mereka.

Kesederhanaan dan kesahajaan selalu hidup dan tumbuh dari dalam diri mereka. Kehidupan mereka sangat sederhana. Ya,sederhana sekali. Menolak fasilitas mewah yang diberikan dan memilih hidup sederhana menjalankan tanggung jawab dalam membangun negara. Seorang pejabat negara (menteri luar negeri) tidak memiliki rumah pribadi, sering pindah dari satu rumah ke rumah yang lain itulah Haji Agus Salim. Berhenti menjadi ketua MUI karena berbicara prinsip beliau lah Buya Hamka. Menjabat sebagai menteri penerangan kala itu memiliki dua helai baju kemeja yang lusuh dan kemeja bertambal itulah sosok M.Natsir. Walaupun mereka memiliki posisi strategis namun tetap menjadi pribadi rendah hati.

Peradaban Minangkabau telah memberikan dampak lahirnya generasi-genarasi tangguh yang memiliki memiliki ruh dalam membangun sebuah peradaban. Sosok-sosok inspiratif yang menjadi pilar kebangkitan negeri. Sebagaimana pepatah adat mengatakan “ka pai tampek batanyo, pulang tampek babarito”. Maka dari itu sudah sepantasnya nilai nilai peradaban Minangkabau ditumbuhkan dan dibangkitkan dalam sanubari. Sehingga sosok Hatta, Syahri, Buya Hamka dan Agus Salim lainya hadir kembali memberikan kontribusi besar bagi negeri ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s