Saya dan Buku

Ketika tahun pertama di kampus saya mendapatkan motivasi dari seorang dosen. Beliau mengatakan seperti ini “Salah satu bukti anda seorang mahasiswa adalah banyaknya buku yang anda baca dan banyaknya buku yang anda miliki. Anda akan bangga setelah tamat nanti karena buku-buku tersebut menyertai perjuangan dan menjadi saksi hidup bahwa anda pernah menjadi seorang mahasiswa. Di sisi lain mahasiswa itu identik dengan yang namanya membaca”.

Berangkat dari sana bacaanpun bertambah dan koleksi buku pun meningkat. Namun dari total buku yang saya miliki hampir separuhnya betemakan agama dan filosofi hidup. Ya, sedikit sekali buku bacaan umum apalagi buku-buku yang berorintasikan sosialis, liberalis, seperti Kalr Max, Adam Smith dan lain-lain. Meskipun ada bacaan-bacaan umum palingan buku tokoh nasional yang pernah berjuang membela republik ini (Soekarno, Natsir, Hatta, Agus Salim, Hamka dll)

Membaca juga berbicara mengenai kebutuhan.. Banyaknya buku agama yang saya baca mengindikasikan saya membutuhkan pemantapan dan kematangan jati diri biar jadi sholeh.. 😊

Limau Manis, 11/3/2016

Buku : Kita Tak Akan Lelah

Awal idenya sederhana… kami ingin meninggalkan pengalaman dan jejak secara permanen selama mengabdi di BEM KM Unand. Karena kami sadar perjuangan di BEM KM Unand akan turus berlanjut dan tidak berhenti di periode kami. Maka akan bermanfaat kiranya jika pengalaman yang telah kami lalui kami goresan dalam bentuk tulisan yang dikemas menjadi sebuah buku. Ya, bagi kami dengan buku narasi-narasi perjuangan akan tetap hidup, terjaga dan mengalir selamanya.

Terima kasih kepada Tim”Kami Tak Akan Lelah” yang telah mengemas buku ini dengan baik Sdr. Surya Puspita Sari Sekretaris Menteri Infokom BEM KM Unand dan Istianah Alfikriyah Sekretaris Menteri Sosial Politik BEM KM Unand serta kawan-kawan pengurus BEM KM Unand Kabinet Bangkit dan Solid yang telah menggoreskan pemikiranya dalam buku ini.

InsyAllah buku ini dalam waktu dekat akan kami launching. Mohon doanya sahabat semua, semoga kami dimudahkan untuk mengkonsep kegiatanya.

Implementasi kesyukuran yang berbeda… Ketika yang lain disibukan dengan teropong dan kemeranya disaat fenomena gerhana matahari terjadi. Di satu sisi masih ada yang mensyukuri akan keagungan dan kebesaran sang pencipta.

Limau Manih, 10/3/2016

Sadari Saja Mereka Hanya Bisa Bicara Dan Bicara

Bicara saja tidak akan cukup mengubah sesuatu yang tidak baik menjadi baik, mereposisi sesuatu yang keluar dari jalur rotasi ke posisi ideal. Bahkan mengubah sebuah kebijakan yang membuat orang lain menjerit hanya dengan modal bicara. Semua itu butuh tindakan nyata dan pengorbanan. Yaa, masalah tidak akan selesai jika hanya modal bicara. Sekali lagi tidak akan selesai. Maka mau tidak mau harus berkeringat turun tangan terlibat langsung dalam pertarungan.

Banyak yang bicara ini bicara itu namun ciut dalam berjuang. Memang mudah menilai suatu permasalahan hanya dengan bermodalkan ucapan namun sukar dalam tindakan. Fenomena inilah yang akan mengikis sebuah tanggung jawab yang seharusnya bisa dikerjakan. Dan fenomena inilah yang sudah mengakar sehingga banyak yang menjadi aktor hanya dengan modal bicara tanpa kerja dan pengorbanan. Menyatakan ini salah, itu salah gampang… tidak perlu mengerluarkan keringat. Namun semua itu tidak akan cukup menyelesaikan sebuah permasalahan. Seorang aktor tidak hanya bicara namun turun langsung di medan pertempuran untuk berjuang, berkeringat bahkan berdarah-berdarah dalam mencapai misi. Kelantangan Soekarno di mimbar tidak akan cukup tanpa diiringi perjuangan dilapangan.

Bicara bicara dan bicara saja akan hanya membuat kebisingan. Dan bicara dan bicara tak akan mampu membuat perubahan. Saatnya turun tangan berkeringat dalam mewujudkan perubahan dan menciptakan kebaikan. Masyarakat hanya meliat apa yang sudah kita kerjakan, kebaikan apa yang sudah dilakukan bukan apa yang kita bicarakan. Karena sentuhan nilai itu berawal dari keterlibatkan diri dalam sebuah pengorbanan dan pengabdian.

Mari hadirkan diri lebih dekat dengan cara terlibat dalam pergulatan di medan perjuangan. Jangan hanya jadi pengamat yang hanya bermodalkan bicara dan bicara. Jadilah aktor yang terlibat diranah perjuangan.

Republik ini lahir bukan banyaknya pengamat yang bicara ini bicara itu tapi banyak aktor (pahlawan) turun ke medan juang rela mati untuk kemerdekaan ibu pertiwi. Kita bagaimana?

Padang, 9/3/2016

Fenomena gerhana matahari membuat jiwa begitu takjub. Betapa besar kekuasaan Allah tuhan semesta alam yang menciptakan langit dan bumi. Akankah kita masih berpaling dariNya??

Padang Dan Gerhana Matahari

Gerhana Matahari Total (GMT) merupakan fenomena alam yang sangat menarik perhatian masyarakat Indonesia. Fenomena alam yang langka yang terjadi 33 tahun sekali. Jika hari ini terjadi pada tahun 2016 maka selanjutkan akan bisa dilihat pada tahun 2049. Lebih menariknya Gerhana Matahari Total (GMT) tidak terjadi disemua daerah hanya pada 11 daerah yang ada di Indonesia. Terbatasnya daerah yang dilalui serta langkanya fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) tentu akan menjadi penantian yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia.

Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat, komunitas, bahkan pemerintah sekalipun untuk menyambut datangnya Gerhana Matahari Total (GMT) ini. Ada yang menyambut dengan membuat event dengan skala besar ada yang mengadakan festival gerhana matahari, ada yang sengaja berkunjung hanya untuk menyaksikan gerhana, dan ada yang menjadikan gerhana matahari sebagai sebuah ritual kebudayaan.

Di lain sisi ada kebijakan yang sangat saya apresiasi dalam menyambut datangnya (Gerhana Matahari Total). Sebut saja Kota Padang tempat saya tinggal selama menuntun ilmu di Universitas Andalas. Walikotanya Bapak Mahyeldi menghimbau masyarakat yang beragama islam untuk melaksanakan shalat gerhana secara berjamaah di sebelas tempat (masjid) yang telah disediakan. Bahkan dilingkungan Aperatur Sipil Negara (ASN) di ruang lingkup Kota Padang dibuat surat ederan bernomor 451.0261/Kesra-2016 agar pegawai melaksanakan shalat sunnah gerhana secara berjamaah.

Sederhana memang namun bagi saya kebijakan ini sangat tepat dan sangat bermanfaat karena menuntun masyarakat untuk mensyukuri keagungan sang pencipta dan tidak dilarutkan dengan fenomena alam yang terjadi dengan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif bahkan menjauhkan hamba dengan sang pencipta. Kebijakan ini juga menunjukan walikota Padang berkomitmen wujudkan masyarakat Kota Padang yang madani dekat nilai-nilai keislaman sesuai.

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda di antara tanda-tanda kekuasan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah sholat, dan bersedekahlah”(HR. Bukhari).

Semoga dengan gerhana matahari ini keimanan kita makin bertambah, selalu mengagungkan Allah sebagai yang maha segalanya dan mensyukuri setiap nikmat yang telah Allah berikan untuk manjalani hidup di buminya.

Limau Manis, 8/3/2016

Aspirasi Langit dan Pahlawan Kemaren Sore

Kemaren siang saya mendatangi sekre Bem KM Unand memenuhi undangan Presiden KM Unand adinda Edi Kurniawan untuk berdiskusi. Namun setiba di depan sekre saya melihat pamflet yang terpasang di mading BEM KM dg tulisan sesuai dg foto yg ada di bawah. Satu sisi saya memahami aspirasi yg disampaikan. Namun satu sisi ini adalah hal yg saya tidak senangi. Karena tidak mencantumkan identitas dan lembaga yang ada. Kejadian ini mengingatkan saya ketika maju sebagai calon presiden KM Unand 2015-2016 di mading -mading gedung kuliah dipenuhi pamflet yang bertulisan ketidak percayaan kepda BEM KM Unand dan DPM KM Unand karena dianggap tidak aspiratif. Namun amat disayangkan pamflet tersebut tdk ada identitas yg dicantumkan.

Bagi saya identitas meruapkan suatu yg sangat penting. Karena akan memberikan informasi bahwa yg menyampaikan berasal dari mahasiswa ini, lembaga ini sehingga orang akan tau dari mana dan oleh siapa aspirasi disampaikan. Jika tidak dicantumkan akan muncul pradigma negatif dari orang lain bahwa adanya pengkaburan identitas yang merupakan suatu wujud ketakutan dalam menyampaikan aspirasi.

Mengenai isi “aspirasi langit” ini saya sangat mengahragai namun selama ini ketika korban butuh pelayanan, korban butuh perhatian, butuh advokasi asuransi, dan bus kampus tidak lulus uji KIR dan harus ada alternatif bus lain untuk mobilisasi kawan-kawan mahasiswa ke kampus kawan-kawan kemana saja?? Hari ini teriak-teriak melalui mading-mading tanpa kejelasan identitas dan seolah kawan-kawan adalah pahlwan, selama ini sudah lakukan apa?

Saya dan kawan-kawan pengurus BEM KM periode lalu memang menyadari permasalahan bus kampus belum berakhir karena permasalahanya yang kompleks. Namun setidaknya kita sudah mencoba memberikan pelayanan dengan gerakan skala periorias yang dibutuhkan saat ini (advokasi korban dan perbaikan maintenence bus) dan Allhamdulillah sudah jalan tinggal mengawal proses perjalannya. Selanjutnya masuk ke tahap perbaikan manajemen bus dan membuka dosa-dosa masa lalu yang insyAllah akan dilanjutkan di kepengrusan sekarang. Ketika saya diskusi dengan Presiden dan wakil presiden KM mereka berkomitmen untuk melanjutkan perjuangan ini.

Mari kita doakan semoga BEM KM 2016-2017 beserta kawan-kawan mahasiswa diberikan kekuatan dan kemudahan untuk berjuang menuntaskan kasus klasik yang ada di kampus tercinta.

Limau Manih, 8/3/2016